Breaking News:

Penanganan Covid

Australia Capai Positivity Rate di Bawah 1 Persen, Indonesia di Atas 10 Persen, Ini Kata Epidemiolog

Negara Australia nampaknya kini dapat dijadikan sebagai contoh dalam menanggapi pandemi Covid-19. Australia tidak lagi mewajibkan penggunaan masker.

Freepik/user15285612
Wanita memakai masker untuk mencegah penularan virus corona (Ilustrasi) 

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Negara Australia nampaknya kini dapat dijadikan sebagai contoh dalam menanggapi pandemi Covid-19. Australia tidak lagi mewajibkan penggunaan masker hingga di pusat perbelanjaan. 

Walau di sisi lain, menurut pejabat sementara Menteri Utama Victoria, James Merlino, masker masih harus digunakan bila bepergian menggunakan transportasi umum, taksi, di rumah sakit dan di rumah perawatan lansia.

Saat ini  positivity rate Australia berada di kisaran 0,2 persen, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengam Indonesia yang berada di atas 10 persen. 

Sebagaimana dikutip Tribunnewsmaker.com dari Tribunnews Australia Capai Positivity Rate di Bawah 1 Persen, Indonesia Masih Tinggi, Apa Kata Epidemiolog?, menurut Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman, hal ini bukanlah suatu yang mengherankan. Australia telah tegas, ketat dan cepat menanggulangi Covid-19, bahkan sebelum kasus infeksi pertama muncul.

Dan saat kasus telah muncul, Australia langsung mengadakan lockdown untuk mengurangi angka infeksi. Namun apakah Indonesia dapat melakukan hal yang serupa dengan Australia

Menurut Dicky, Indonesia saat ini sepertinya tidak akan sanggup melakukan lockdown secara serentak. Terutama dalam skala besar karena dirasa terlalu berat. 

Baca juga: POSITIF Covid-19, Fatin Shidqia Lubis Pucat & Harus Dibantu Alat Pernapasan, Arafah Rianti Mohon Doa

Baca juga: Warga yang Kembali ke Jakarta Wajib Membawa Surat Bebas Covid-19, Bagaimana Jika Terlanjur Tak Bawa?

Melihat Indonesia saat ini levet terburuk yaitu berada di Community transmision. Berbeda dengan Australia yang sudah beberapa lama tidak ada kasus baru.

Kalau pun memang ingin melakukan pembatasan, tentunya tidak terlalu besar.

"Tidak akan sanggup. Mungkin jika PSBB dilakukan dua Minggu total se-Jawa dan Bali mungkin bisa dilakukan. Namun yang utama sekali adalah penting penanganan terhadap temuan kasus aktif serta penjangkauan, itu yang harus dilakukan,"katanya pada Tribunnews, Sabtu (15/5/2021).

Dilihat dulu upaya konsisten dari penegakan protokol kesehatan.

Walaupun ada vaksin, hal ini tidak bisa dijadikan sebagai strategi utama. 

(Tribunnews/ Aisyah Nursyamsi)

#Covid-19 #Australia #Indonesia

Ikuti kami di
Editor: Listusista Anggeng Rasmi
Sumber: Tribunnews.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved